Salah satu kegiatan volunteering yang diminati mahasiswa UNM. (Foto: Ist)
Salah satu kegiatan volunteering yang diminati mahasiswa UNM. (Foto: Ist)
Salah satu kegiatan volunteering yang diminati mahasiswa UNM. (Foto: Ist)

PROFESI-UNM.COMVolunteers don’t get paid, not because they’re worthless, but because they’re priceless. Begitu yang dikatakan seorang atlet Kanada, Sherry Anderson. Dirinya aktif terjun memberi aksi nyata dalam kegiatan kemanusiaan sebagai volunteer (sukarelawan).

Menjadi volunteer memang merupakan kegiatan tanpa pamrih. Tak ada upah sebagai balasan karena mengorbankan tenaga, pikiran, maupun waktu selama ikut dalam gerakan ataupun komunitas.

Lain padang, lain belalang. Beda zaman, beda perkembangan. Volunteer tak lagi sesempit kegiatan kepalangmerahan saja seperti pada masa peperangan. Banyak komunitas bermunculan membuka perekrutan sukarelawan. Bagi sesiapa saja yang ingin bekerja tanpa bayaran.

Latar belakang volunteer pun beragam. Mulai dari akademisi, pegawai negeri, karyawan swasta, wirausahawan, bahkan mahasiswa. Di Universitas Negeri Makassar sendiri, tak sedikit mahasiswa yang menyediakan waktu senggangnya menjadi volunteer di berbagai gerakan ataupun kegiatan sosial.

Koming Juhartawan, salah satunya. Mahasiswa Jurusan Akuntasi ini aktif sebagai relawan pengajar di Sokola Kaki Langit. Sebuah komunitas yang memberikan akses pendidikan bagi anak-anak di daerah pegunungan.

Ia mengatakan, kegiatan volunteer merupakan salah satu aksi mahasiswa sebagai agent of change. “Salah satu peran mahasiswa itu sebagai agent of change, memberikan sumbangsih nyata dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.

Mahasiswa angkatan 2012 ini juga mengaku, kegiatan di gerakan Sokola Kaki Langit tak menjadi masalah bagi aktivitas perkuliahannya. “Bukan mahasiswa namanya kalau manajemen waktu belum dikuasai. Saya pribadi merasa aman kuliahnya, semuanya dapat di-handle dengan baik,” akunya.

Terjun aktif sebagai volunteer membuka cara pandang Koming dalam mendorong daya kritis mahasiswa yang harus mengikuti perkembangan zaman. “Kritis mahasiswa saat ini sudah bukan tertuju pada aksi demonstrasi sesaat, tapi yang saya lihat sekarang cara mahasiswa menyampaikan aspirasi salah satunya dengan berkecimpung ke dalam komunitas yang mereka suka,” katanya.

Kendati tak diberi upah, sejumlah motivasi lain sebenarnya mendasari mahasiswa untuk aktif sebagai volunteer.  Salah satu di antaranya adalah mempelajari softskill. Hal itu diungkapkan oleh mahasiswa Fakultas MIPA, Hilman.

Ia menjadi volunteer pada Makassar International Writers Festival 2016. Menurutnya, pengalaman yang diperoleh saat menjadi volunteer merupakan bekal dalam mengembangkan skill. “Kegiatan volunteer memberikan pengalaman yang mungkin tidak akan didapatkan dari kegiatan kampus karena kita bekerja sama dengan berbagai orang dengan latar belakang yang berbeda,” ujarnya.

Selain menambah pengalaman, aktif sebagai volunteer juga dapat dimanfaatkan untuk “memperindah” deretan keterlibatan kegiatan sosial di Surat Keterangan Penndamping ijazah (SKPI) atau curriculum vitae (CV). Hilman tak menampik adanya kelebihan itu. “Ada juga yang bertujuan menjadikan ajang volunteer untuk mendapatkan kertas pendamping ijazah dan menjadi kompetensi CV,” bebernya.

Mahasiswa Fakultas Ekonomi, Andi Reski Almaida DM juga mengakui  hal tersebut. “Mahasiswa yang event hunter pasti setuju. Berhubung volunteer itu menambah keterampilan sama pengalaman di bidang sosial, ya begitulah,” ujar mahasiswa yang aktif sebagai volunteer di komunitas Aksi Indonesia Muda ini.

Terlepas dari semua motif di baliknya, menjadi seorang volunteer tetaplah memberikan aksi nyata dalam komunitas maupun masyarakat. “Intinya kalau mahasiswa terjun jadi volunteer, artinya bergunalah. Kayak ada gunanya kita sekolah. Ada yang bisa kita bagi ke orang yang membutuhkan,” tuturnya.

Komunitas Kependidikan Jadi Favorit

Sebagai kampus pendidik calon guru, kebanyakan mahasiswa UNM cenderung lebih memilih bergabung menjadi volunteer di gerakan atau komunitas yang bergerak di bidang kependidikan. Kegiatannya tak jauh-jauh dari mengajar anak-anak di daerah pedalaman, pegunungan, maupun pesisir.

Mahasiswa Jurusan Akuntansi, Koming Juhartawan di antaranya. Sejak Agustus lalu, ia bergabung di gerakan Sokola Kaki Langit. “Kegiatan Sokola mengajar di daerah pegunungan, bercita-cita mencerdaskan anak-anak dengan pendidikan,” ujar Koming menceritakan ketertarikannya bergabung di Sokola Kaki Langit.

Berikut ini beberapa gerakan maupun komunitas Makassar yang bergerak di bidang kependidikan:

  1. Sokola Kaki Langit

Dirintis oleh Alumni Fakultas Ekonomi UNM, Andi Mey Kumalasari Juanda pada Desember 2014. Sokola Kaki Langit merupakan gerakan relawan pengajar bagi anak-anak di daerah kaki langit (pegunungan).

Mey bercerita, gerakan ini muncul sebagai respon atas sulitnya akses pendidikan di daerah pegunungan. “Ini semata-mata sebagai bentuk keprihatinan kepada anak-anak di daerah terpencil yang pendidikannya terabaikan,” ujarnya.

Gerakan ini telah memiliki dua desa binaan, yaitu Desa Umpungeng (Soppeng) dan Desa Bulo-Bulo (Barru). Kini, Sokola Kaki Langit telah mewadahi tak kurang dari dua ratus relawan.

  1. Sikola Inspirasi Alam

Komunitas ini masih terbilang baru, berdiri pada Hardiknas, 2 Mei lalu. Didirikan oleh Fitri Nur Aningsih bersama empat rekan lainnya, Sikola Inspirasi Alam (SIA) mendidik anak-anak Desa Lappara, Sinjai.

Fitri menuturkan, komunitas SIA berfokus pada sekolah-sekolah yang tertinggal. “Kita melihat potret pendidikan di Indonesia masih banyak sekolah di pedalaman yang butuh tenaga pendidik, apalah arti titel sarjana pendidikan kalau tidak dipraktekkan,” tutur alumni Jurusan Matematika UNM ini.

  1. Aksi Indonesia Muda

Komunitas ini beranggotakan anak muda yang menjadi relawan dalam mengupayakan solusi kreatif atas penanggulangan kemiskinan. Salah satu upaya pengentasan kemiskinan Aksi Indonesia Muda (AIM) dilakukan melalui pendidikan informal.

Ketua AIM, Adryan Yudhistira menuturkan, kegiatan komunitas ini berpusat di kampung eks kusta, Dangko, Makassar. “Selain memberikan pelatihan keterampilan, kita juga berikan pendidikan informal ke anak-anak perkampungan esk kusta,” ujar mahasiswa Fakultas Psikologi UNM ini.

  1. Rumah Berbagi Asa

Dengan tagline “Sebab kecerdasan adalah hak semua wilayah!”, komunitas pendidikan Rumah Berbagi Asa mengusung program Kakak Guru. Cakupan wilayahnya berada di daerah Sulawesi Selatan.

Desa Patanyamang di daerah pegunungan Maros menjadi target relawan Kakak Guru. Tiap bulannya komunitas mengabdi selama empat hari. Kegiatan tersebut berlangsung selama enam bulan di setiap desa. (*)


*Tulisan ini telah terbit di Tabloid Profesi Edisi 207