Furqan Ali Yusuf, Awardee LPDP PK 42 (ist)
Furqan Ali Yusuf, Awardee LPDP PK 42 (ist)
Furqan Ali Yusuf, Awardee LPDP PK 42 (ist)

PROFESI-UNM.COM – Karena pengalaman pun adalah guru yang terbaik, itulah mengapa kita penting untuk belajar hal-hal baru. Seperti dalam motto saya adalah “selalulah merasa bodoh agar selalu ingin belajar”. Jika kita melihat orang besar berbicara, terasa nyaman melihat mereka melantunkan kata-kata yang ia kemukakan bagaikan tersusun rapi di bibirnya. Mungkin ini merupakan suatu reaksi alamiah untuk mendeskripsikan perasaan kagum, apresiasi terhadap mereka. Oleh karena itu, penting belajar baik secara formal maupun non formal.

Di era sekarang banyaknya anak-anak bangsa yang ingin sekali besar karena pendidikan, tetapi ekonomi selalu menjadi penghambat bagi mereka, membuat selalu merasa kecil. Tetapi di sisi lain, anak-anak seperti itu mempunyai bakat bahkan prestasi, tapi karena ekonomi, harapan mereka bisa saja hilang.

Pendidikan membuat kita selalu membuka wawasan tentang hal yang baru. Tidak ada batasan untuk menghambat seseorang mencari pengetahuan. Meningkatnya kualitas pendidikan saat ini, membuat pertumbuhan masyarakat juga semakin meningkat bagi yang merasa mempunyai pendidikan yang tinggi. Semakin tinggi kualitas pendidikan akan membuat orang sadar bahwa pendidikan itu dapat membuat reformasi. Tujuannya mengarah pada pengembangan atau penelitian bahkan berpengaruh pada sumber daya manusia.

Sebagai pondasi dalam suatu bangsa, perlu ditanamkan pada anak-anak bangsa sejak usia dini. Mereka mesti ditanamkan dalam jiwanya, bahwa pendidikan tidak hanya berarti pengatahuan atau sebatas membaca buku saja. Namun, perlu ditanamkan bahwa memegang makna pendidikan itu sembari mempelajari sesuatu yang baru berdasarkan pengalaman.

Kesuksesan tiap individu berbeda-beda tingkat pencapaiannya dan juga ada pada setiap manusia, sama halnya dengan saya. Saya beruntung terlahir dari pasangan yang berbeda suku, yang mempunyai kehidupan sederhana. Beliau dikaruniai tiga orang anak, saya putra sulungnya. Dari kecil, beliau mengajarkan kami tentang bagaimana saling menghargai walaupun tidak se-suku, agama, ras maupun adat. Karena dengan menghargai, dipercayai, dan mempercayai, kita bisa bertahan lama dalam suatu pekerjaan yang kita impikan dan bahkan bisa diamanahkan memiliki suatu pekerjaan. Dalam motto beliau adalah “Sipakatau, Sipakalebbi, dan Sipakainge”. Kalimat itulah sering terdengar di telinga anaknya, yang ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kesuksesan dalam hidup saya adalah beliau yang mempunyai pendidikan hanya sampai Sekolah Menengah Atas dan tidak memiliki pekerjaan tetap atau gaji bulanan seperti orang lain. Jadi kami hanya hidup dengan mempunyai kurang lebih sehektar tanah yang di tanami tanaman jangka panjang maupun jangka pendek. Kesederhanaan yang beliau miliki, tidak pernah lelah apalagi mengeluh dengan semua pekerjaan yang untuk menyekolahkan kami bertiga.

Sering kami makan nasi dengan jagung untuk menjalani hari-hari. Tapi dengan semua itu, Alhamdulillah beliau juga bisa menyekolahkan kami. Beliau sering sampaikan bahwa “Kita orang miskin nak, tapi kami orang tuamu berusaha semampu mungkin untuk menyekolahkan kalian bertiga”. Alhamdulillah atas izin Allah kami sekeluarga diberi rezeki untuk bisa mengenyam pendidikan seperti orang lain.

Atas usaha dan doa, utamanya dari orang tua saya, saya sebagai putra sulung beliau bisa sekolah sampai sejauh ini. Di masa semester satu berjalan, kerja keras beliau luar biasa demi menyekolahkan saya seperti orang lain. Dan Alhamdulillah setelah semester dua berjalan, dengan modal berani, mental yang kuat, saya berusaha memanfaatkan ilmu yang saya petik selama kurang lebih dua semester berjalan dengan tujuan bisa membantu meringankan beban orang tua. Lebih syukurnya lagi sampai kuliah saya selesai, saya terus mengasah ilmu yang saya miliki dan bisa biaya sendiri sampai mencapai gelar sarjana.

Alhamdulillah saya bisa mengenalkan kepada orang tua saya bahwa pendidikan itu seperti apa, dan seperti beliau inginkan jika saya nantinya akan bisa jadi seorang tenaga pengajar/guru. Karena bagi beliau, profesi itu lebih mulia dari profesi lainnya.

Mengenyam pendidikan seperti orang lain walaupun kemampuan ekonomi terbatas adalah bukan alasan, akan tetapi jika kita mempunyai prestasi dan bakat, ekonomi bukan jadi penghambat untuk bisa melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.

Saya menarik kesimpulan bahwa jangan pernah kita berkecil hati jika memiliki kekurangan karena dibalik kekurangan itu kita memiliki kelebihan yang orang tidak punya dan jika diberi suatu amanah kepada kita, jangan pernah menolak. Walaupun sebenarnya kita belum mahir atau bisa dalam amanah itu, akan tetapi orang mengamanahkan kepada kita dengan melihat bahwa kita bisa tetapi belum untuk percaya diri. Di situ kita dapat menambah pengalaman dan pengetahuan dengan mengadaptasikan diri terhadap suatu yang baru. (*)

[divider][/divider]

*Penulis adalah Furqan Ali Yusuf, Alumni UNM (2010), Mahasiswa UGM (2015), Awardee LPDP PK 42