ramadhan
(int)

PROFESI-UNM.COM – Merupakan sebuah respon yang alami ketika kita mengetahui bahwa akan datang seseorang tamu yang dimuliakan, kita akan menyiapakan segala sesuatunya. Semaksimal mungkin kita akan mempersiapkan agar tidak menuai kekecewaan dan mengambil faedah dari tamu yang dimuliakan tersebut.

Sebentar lagi, ramadhan akan menjumpai kita, bersandang selama sebulan penuh menemani umat muslim. Ramadhan dengan segala kemuliaan yang dimilikinya menjadi bulan yang diharapkan dan dinantikan perjumapaanya. Teringat dengan hadis nabi:

Syaikh Shaduq ra. meriwayatkan dari Imam Ridha as. dengan sanad mu’tabar, dari kakek-kakek beliau as., dari Amirul Mukminin as. bahwa Rasulullah Saw. berkhotbah pada suatu hari seraya bersabda, “Wahai manusia, sungguh telah datang kepada kalian bulan Allah dengan membawa berkah, rahmat dan ampunan; sebaik-baik bulan di sisi Allah; hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama, malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama, dan saat-saatnya adalah saat-saat yang paling utama; sebuah bulan yang kalian telah diundang untuk menghadiri jamuan Allah, dan di bulan ini, kalian telah dijadikan orang-orang yang berhak mendapatkan karunia Allah. Nafas-nafas kalian di dalamnya adalah tasbih, tidur kalian adalah ibadah, setiap amalan kalian diterima, dan doa kalian dikabulkan. Maka, mohonlah kepada Allah, Tuhan kalian dengan niat yang jujur dan kalbu yang bersih agar Ia memberikan taufik kepada kalian untuk menjalankan puasa dan membaca al-Kitab-Nya; karena orang yang celaka adalah orang yang terhalangi dari ampunan Allah pada bulan yang agung ini; ingatlah dengan rasa lapar dan dahaga kalian pada bulan ini rasa lapar dan dahaga hari kiamat, bersedekahlah kepada orang-orang fakir dan miskin kalian, hormatilah orang-orang yang lebih tua dari kalian, kasihanilah anak-anak kecil, sambunglah silaturahmi kalian, jagalah lidah kalian, jagalah mata kalian hingga tidak melihat apa yang dilarang, jagalah telinga kalian hingga tidak mendengarkan apa yang tidak diperbolehkan, berbelas-kasihlah kepada anak-anak yatim agar Allah berbelas-kasih kepada kalian, bertaubatlah kepada-Nya dari dosa-dosa kalian, angkatlah tangan kalian untuk berdoa di waktu-waktu shalat kalian; karena waktu-waktu itu adalah waktu yang paling utama; Allah akan melihat para hamba-Nya pada waktu itu dengan rahmat, menjawab mereka jika bermunajat kepada-Nya, memenuhi (panggilan) mereka jika memanggil-Nya, dan mengabulkan doa mereka jika memohon kepada-Nya”.

Tentunya dengan segala kemuliaan yang dikandungnya, sekiranya perlu mendapat perhatian dan mempersiapkan diri. Nabi Muhammad Saw. berdo’a ketika berada di bulan Rajab dan Sya’ban, dengan permohonan untuk diperjumpakan dengan bulan Ramadhan. Sahabat Anas bin Malik berkata bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda dan berdoa, ”Ya Allah, berkahilah kami dalam bulan Rajab dan Sya’ban serta sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan.” Merupakan sebuah momentum yang begitu dinantikan bagi orang-orang yang disucikan. Dimana dengan kesucian batin dan kemuliaanya mampu menangkap sesuatu yang berasal dari Yang Maha Suci. Tentunya terdapat perbedaan bagi kalangan orang-orang suci seperti para nabi dan imam dalam pemaknaan dan penyambutan ramadhan. Berbeda dengan kita (masyarakat awam) yang berlumuran dengan dosa dan pengingkaran terhadap nikmat Allah Swt. Kita mengetahui kemuliaan ramadhan hanya melalui teks dan perkataan nabi dan imam yang terwariskan. Sementara mereka yang disucikan mampu melihat realitas dibalik realitas. Inilah yang membuat perbedaan pemaknaan terhadap ramadhan.

Dalam Al-Quran dipertegas pula bagi orang-orang beriman untuk menyambut bulan ramadhan dengan berpuasa , dan bagi mereka yang berhalang maka diwajibkan atas mereka untuk menggantinya atau membayar fidyah (denda).  Berikut adalah firman Allah Swt. berkaitan dengan ramadhan ;

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta`atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu`, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah,  Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. (Al Ahzab : 35)

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”. (Al Baqarah : 185)

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (Al Baqarah : 184)

Tentunya firman-firman di atas sebagai dalil untuk mempertegas kemuliaan bulan Ramadhan. Meskipun diantara kita belum menyaksikan sendiri akan kemuliaan tersebut, yang dikarenakan kotornya batin dari dosa sehingga menghalangi pandangan kita melihat sesuatu yang mulia. Sekiranya firman Allah Swt. dan perkataan nabi telah cukup membuat kita yakin bahwa ramadhan  merupakan anugerah dari Tuhan yang Maha Kuasa kepada mahluknya, sebagai bukti Kasih Sayang-Nya yang tak terbatas.

Salah satu kemuliaan bulan ramadhan  adalah dibukanya pintu-pintu ampunan yang teramat luas. Semoga dengan niat tulus dalam menyambut bulan ini, dapat mengantarkan kita untuk meraih ampunan-Nya, yang kemudian kita tutup dengan perayaan idul fitrih sebagai simbol kembalinya raga-batin ke fitrahnya.

Allah Swt. telah menjanjikan ampunan di bulan ramadhan bagi orang-orang beriman terhadap dosa-dosa pengingkarannya atas nikmat Tuhan yang diberikan-Nya. Perlu dipertegas bahwa dosa-dosa yang diampuni adalah dosa yang berhubungan dengan Allah (Hablum minallah). Sementara dosa yang menyangkut dengan manusia (hablum minannas), sesungguhnya Allah tidak memiliki wewenang untuk menghapusnya kecuali mendapat kerelaan dari manusia yang bersangkutan. Jangankan orang yang menjalankan ramadhan, bahkan mereka yang mati syahid sekalipun, kalau masih ada sangkutan dosa kepada orang lain, tetap belum bisa masuk surga. Oleh karena itu, biar bisa dipastikan semua dosa terampuni, maka selain minta ampun kepada Allah di bulan ramadhan, juga meminta maaf kepada sesama manusia, agar bisa lebih lengkap dan sempurna.

Di Indonesia, masyarakat muslim menyambut ramadhan dengan berpuasa dan melakukan amalan-amalan lainnya untuk menyempurnakan dan memaksimalkan waktu selama sebulan penuh. Jangankan melakukan ibadah seperti sholat, zdikir dan bersedekah, bahkan tidur sekali pun di bulan ramadhan ini terhitung sebagai ibadah. Berpuasa selama sebulan penuh, kemudian merayakan hari kemenangan idhul fitri dengan gemah takbir dan diiringi suara bedug. Silaturohim pada keluarga, tetangga dan kerabat, meminta maaf  dan saling memaafkan satu sama lain. Merupakan sebuah tradisi yang mengantarkan masyarakat pada pencapaian kemuliaan ramadhan.

Selain menjadi momentum harapan penghapusan dosa dan pengumpulan amal-amal perbuatan, ramadhan juga sebagai wadah untuk meng-up grade kualitas manusiawi kita. Selama sebulan penuh,  kita diminta untuk berpuasa menahan lapar dan haus. Membiasakan diri dengan amalan-amalan yang menjauhkan kita dari perbuatan dosa. Menahan diri dan mengendalikan hawa nafsu. Ibarat pendidikan yang Allah Swt. sediakan untuk orang-orang beriman untuk menaikkan kualitasnya atau hanya sekedar mengembalikan manusia kepada fitrahnya. Seperti musim kemarau panjang, membuat kekeringan di mana-mana, tanaman-tanaman layu antara hidup dan mati, debu-debu berterbangan dan menempel di mana-mana membuat warnanya kusam. Lalu kemudian hujan turun membasahi bumi, menghidupkan kembali tanaman-tanaman, membuatnya subur dan hijau kembali, dan membersihkan debu-debuh yang tertempel.

Imam Ali bin Abu Thalib As. dalam khutbahnya yang diabadikan pada Najhul Balagha mengatakan “Wahai manusia, yang paling saya takuti tentang anda ada dua hal: bertindak menurut hawa nafsu dan mengulurkan harapan. Mengenai bertindak menurut hawa nafsu, ini mencegah kebenaran; dan mengenai penguluran harapan, hal itu membuat orang melupakan dunia akhirat. Anda harus tahu bahwa dunia ini sedang bergerak dengan cepat dan tak ada yang tertinggal darinya kecuali zarah-zarah terakhir. Seperti ampas dari sebuah mangkuk yang telah dikosongkan seseorang. Berhati-hatilah, dunia akhirat sedang mendekat, dan kedua-duanya mempunyai putra-putra, yakni pengikut. Anda harus menjadi putra-putra akhirat karena dihari pengadilan setiap putra akan melekat pada ibunya. Hari ini adalah hari beramal dan tak ada perhitungan, tetapi hari esok adalah hari perhitungan dan takkan ada kesempatan untuk beramal.

Tentunya tidak ada lagi alasan untuk tidak menyambut  kedatangan bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Bulan yang dibuka lebar pintu pengampunan-Nya dan menjadi wadah pendidikan bagi orang-orang beriman untuk mengendalikan diri dan nafsu. Semoga kita semua menjadi orang-orang yang mendapatkan manfaat dari kemuliaan bulan ramadhan yang dikatakan lebih baik dari seribu bulan.

Labbaika ya Ramadhan. (*)

[divider][/divider]

*Penulis: Heri Ismawanto, Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar Angkatan 2011