Rektor Baru Universitas Negeri Makassar (UNM), Husain Syam saat dilantik
Rektor Baru Universitas Negeri Makassar (UNM), Husain Syam saat dilantik
Rektor Universitas Negeri Makassar (UNM) Periode 2016-2020, Husain Syam saat dilantik di Gedung Auditorium Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi di bilangan Senayan, Jakarta, Selasa (17/5) lalu. (Foto: Dok. Profesi)

PROFESI-UNM.COM Selasa (17/5) menjadi hari yang dinanti – nantikan oleh Guru Besar Teknik Pertanian ini. Sebab, hari itulah Husain Syam resmi dilantik sebagai Rektor Universitas negeri Makassar (UNM) periode 2016-2020.

Gedung Auditorium Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi di bilangan Senayan, Jakarta diramaikan oleh sivitas UNM sore itu. Satu sosok tampak menjadi fokus perhatian. Ialah Husain, tampak necis dengan setelan jas membalut tubuh. Tak lupa dengan kacamata dan kopiah di kepalanya. Wajahnya tampak berseri-seri dengan senyum mengembang.

Suasana berlangsung khidmat saat hendak dimulainya prosesi pelantikan Husain sebagai rektor baru UNM. Ia tak sendirian. Kala itu, tiga pimpinan perguruan tinggi lainnya dilantik pula pada momen bersamaan. Ialah Jacob Musnasawai (Universitas Papua), Ali Yahya (Politani Negeri Pangkep) dan Syafsir Akhlus (Universitas Maritim Raja Ali Haji).

Resminya Husain selaku rektor ditandai dengan pengukuhan oleh Menristek Dikti, Muhammad Natsir. Jalan baru bagi Husain pun terbuka sebagai orang nomor wahid di kampus orange.

Langkah awal Husain menuju kursi rektor sebenarnya telah jauh dijejakkan sebelum pendaftaran bakal calon rektor. Ia bahkan tak malu-malu menunjukkan ambisinya untuk menjadi orang nomor satu di UNM.

“Tak perlu lagi ada yang pertanyakan. Sikap saya selama ini sudah menunjukkan,” katanya saat ditemui Profesi di ruang kerjanya ketika masih menjabat sebagai Dekan Fakultas Teknik, Selasa, 23 Juni tahun lalu.

Pada tahap penjaringan rektor, November lalu, ia pun bahkan telah lebih dahulu mengklaim suara senat dari sejumlah fakultas. “Dukungan saya ada pada semua fakultas, Di FMIPA dari 20 suara, 6 punya saya. Di Pascasarjana, 12 suara itu saya punya dari 18 pemilik suara senat,” bocornya dengan penuh keyakinan kala itu.

Keseriusannya mencalonkan diri pun terbukti. Ia menjadi pendaftar pertama bakal calon rektor bersama rombongannya, Senin (11/1) lalu. Tampak dalam rombongan, Dekan FIK (Arifuddin Usman), Dekan FT terpilih (Muhammad Yahya), dan PD I FBS (Ansari), mereka kompak dengan seragam putih menemui langsung panitia pemilihan rektor (pilrek).

Husain menyerahkan langsung berkas-berkas pencalonannya di ruang kerja panitia pilrek, lantai 5 Gedung Pinisi.

Setelah Husain, barulah muncul bakal calon rektor UNM lainnya. Ialah Dekan FBS (Syarifuddin Dollah), Eks Ketua LPMP Sulsel (Wasir Thalib), Direktur PPs (Jasruddin), Eks Dekan FMIPA (Hamzah Upu), serta Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan (Heri Tahir).

Tiap bakal calon pun mulai gencar mengkampanyekan dirinya. Ada banyak cara dilakukan demi menggalang dukungan. Ada yang melakukan pertemuan di meja makan, ada yang konsolidasi di hotel, ada yang mendekati pemilik suara dengan memberikan iming-imingan tender.

Husain pun tak ketinggalan. Dirinya melakukan sejumlah pertemuan dengan pemilik suara senat bahkan tokoh-tokoh penting. Di antaranya, Wakil Presiden (Jusuf Kalla), Gubernur Sulsel (Syahrul Yasin Limpo), dan Pendiri Bosowa Corp (Aksa Mahmud).

Dalam menjaring dukungan, ia pun tak mau kalah dalam mengusung program kerja prioritas. Ia dengan antusias menyebutkan 7 program kerja andalannya pada agenda pemaparan program kerja di Ruang Teater Gedung Pinisi, Rabu (27/1). Bakal calon nomor urut 1 ini menjadi orang pertama yang tampil di podium untuk memaparkan idenya.

Husain Syam menyampaikan program kerjanya yang berfokus pada terwujudnya tata kelola UNM sebagai lembaga pendidikan yang memberi layanan prima dengan standar nasional menuju kelas berstandar Internasional (world class university).

Ia menjanjikan, perwujudan tersebut dilakukan melalui peningkatan status UNM sebagai Perguruan Tinggi Negeri Badan Layanan Umum (PTNBLU).

“Saya akan melanjutkan kinerja dari Arismunandar yang belum tercapai. Pada saat nanti saya yang menjadi rektor, itu harus tercapai Satker menjadi BLU,” ungkapnya.

Ia mengklaim, pengelolaan keuangan akan lebih sulit dengan menggunakan sistem Satker ketimbang BLU. “Tidak ada ruang bebas untuk bergerak dan semuanya sinkron satu sama lain. Kesejahteraan pegawai akan tercapai saat UNM berstatus BLU,” tambahnya.

Usaha Husain dalam menarget kursi rektor pun berbuah hasil. Penyaringan bakal calon rektor berhasil menasbihkannya sebagai calon rektor paling unggul dengan 35 suara, Selasa (2/2) lalu. Calon lainnya masing-masing Wasir Thalib 24 suara, Heri Tahir 16 suara, Jasruddin 12 suara, Hamzah Upu 8 suara, dan Syarifuddin Dollah 3 suara.

Hasil tak jauh berbeda kembali didapatkannya saat pemilihan rektor (pilrek) yang melibatkan suara Kemenristek Dikti pada Kamis (3/3) lalu. Husain mengguli calon rektor lainnya dengan mengantongi 69 suara, disusul Wasir dengan 47 suara lalu Heri dengan 35 suara.

Jalan barunya sebagai rektor pun kini terbuka. Kemenangannya dalam pilrek merupakan kemenangan seluruh sivitas.

 

*Asa Kepada yang Berkuasa

Husain Syam telah berpindah kantor. Dari Ruang Dekan FT menjadi Rektor UNM. Amanah Arismunandar selaku rektor dua periode pun resmi berakhir. Sejumlah asa dititipkan pada “nahkoda pinisi” baru.

Aris kemudian berharap Husain mampu membuat gebrakan dalam melanjutkan tongkat estafetnya. “Dari sisi akademik, publikasi jurnal internasional menjadi pesan utama saya kepada rektor yang baru, karena disitulah dilihat ukuran-ukuran perguruan tinggi kemampuannya melakukan publikasi.” kata pria kelahiran Sinjai ini.

Guru Besar Administrasi Pendidikan menambahkan, sifat capability dalam memimpin diperlukan dalam menahkodai seluruh sivitas kampus. “Sumber daya manusia ini yang telah bagus didorong untuk lebih baik lagi, rasio ini mesti kita pertahankan, sisa-sisa pembenahan sedikit untuk meningkatkan,” pesannya.

Tak hanya Arismunandar yang menitip asa. Rektor UNM periode 1982-1990, Paturungi Parawansa yang turut hadir pada prosesi pelantikan tak luput menaruh harapan cerah untuk UNM ke depannya pada rektor Husain Syam.

“Saya ingin menekankan, rektor harus memiliki sifat Integritas, yang artinya memiliki ketulusan hati dan kejujuran dalam memimpin sehingga UNM akan memiliki sistem administrasi yang baik,” katanya.

Ia pun menegaskan, seorang rektor harus memiliki sifat intelegensi, yang diartikan bahwa seorang rektor harus memiliki kecerdasan karena jabatan rektor berada dalam lingkungan akademisi.

Amanah menjadi rektor bukanlah amanah main-main, melainkan anugerah. Hal itu yang harus diingat oleh Husain menurut Menristek Dikti, Muhammad Natsir usai mengukuhkan Husain Syam selaku rektor baru UNM.

“Tugas ini bukan sebagai anugerah. Bukan sesuatu yang harus kita cari, tetapi dipertangungkawabkan.

Ini merupakan amanah institusi. Sehingga peganglah dengan sebaik-baiknya dalam rangka mencerdaskan anak bangsa,” ujar eks Rektor Universitas Diponegoro itu.

Ia mengingatkan transparansi dan kepercayaan merupakan kunci utama dalam memimpin perguruan tinggi. “Tentunya transparan, bertanggung jawab, dan saling memercayai antar stakeholder,” jelasnya.

 

*Segera Benahi Bengkalai !

Komitmen harus dipegang penuh oleh Husain Syam. Hal ini mengingat bengkalai di berbagai lini, mulai dari akademik, keuangan, kemahasiswaan, hingga kerja sama. Permasalahan yang muncul di kampus orange bak gema yang muncul berulang. Kurangnya perhatian menyebabkan permasalahan tersebut tak ada habisnya.

“Kami siap berbenah menjadi UNM yang lebih baik,” janji Husain saat agenda penyambutan Rektor baru di Pelataran Gedung Pinisi, Kamis, (19/5).
Akreditasi prodi C masih menjadi salah satu pembicaraan. Tak hanya itu, pungutan liar pada mahasiswa akhir melalui praktik amplop dan parsel masih kerap dijumpai.

Sejumlah pembangunan gedung kampus masih mangkrak, seperti Tellu Cappa PPs, Lab Terpadu FT, dan Gedung FIS. Isu sensitivitas dan sikap agresif mahasiswa juga perlu menjadi perhatian agar mampu meredam konflik yang dapat muncul sewaktu-waktu. Itu baru sekelumit permasalahan yang ada di kampus eks IKIP Ujung Pandang ini.

Dalam upayanya melakukan pembenahan, Husain Syam telah memaparkan sejumlah program kerja program kerja yang menjadi prioritas utamanya untuk dikerjakan di awal kepemimpinannya.

Ia mengatakan, pihaknya akan segera melakukan pembenahan, baik di internal kampus maupun pada pembangunan jejaring luar kampus untuk mencapai standar global mutu perguruan tinggi.

“Apa yang kita sampaikan pada program kerja belum sepenuhnya ditangkap oleh sivitas akademika. Saya berencana untuk roadshow ke tiap unit kerja UNM tentang apa yang kita akan lakukan,” ujarnya.

Hal tersebut dilakukan Husain karena sosialisasi merupakan langkah awal demi mencapai tujuan bersama. “Karena prinsipnya jika perencanaan sudah tersosialisasi dengan baik maka separuh tujuan kita sudah tercapai,” kata Dekan Fakultas Teknik dua periode ini.

Selain itu yang mendesak, kata Husain, adalah perampungan pembantu rektor. “Kita akan memilih orang-orang yang berkompeten di bidangnya. Selain itu, saya butuh orang yang mampu mengimplementasikan 7 program kerja utama saya yang terjabarkan dalam 70 kegiatan,” jelasnya.

Pada penyambutan Rektor baru di Pelataran Gedung Pinisi pula, Husain telah membeberkan bocoran jajaran pembantu rektor yang akan mendampinginya selama empat tahun ini.

“Terima kasih kepada para calon pembantu yang sempat datang hari ini, walaupun ada yang tidak datang,” ungkapnya.

Terlihat barisan paling depan duduk saat itu, Karta Jayadi (Mantan Dekan FSD), Arifuddin Usman (Dekan FIK), Ansari (PD 1 FBS), Nurlina Syahrir (Dekan FSD), Ismail Muchtar (Kepala BAAK), dan masih banyak lagi yang digadang-gadang akan menjadi kepala UPT di UNM.

Ia pun berharap, kemeriahan penyambutan akan jabatannya adalah awal dari segalanya. “Mari bersama-sama menjadikan UNM yang lebih baik pada hari ini. Tidak ada alasan untuk tidak bekerja keras,” tegasnya. (*)


*Tabloid LPM Profesi UNM Edisi 204