Hartono (peci putih) tengah mengajar anak didiknya membaca Al-qur'an di Masjid Babul Ikhtiar, Jl. Sultan Alauddin II, Minggu (29/5). (Foto: Nurlaela - Profesi)
Hartono (peci putih) tengah mengajar anak didiknya membaca Al-qur'an di Masjid Babul Ikhtiar, Jl. Sultan Alauddin II, Minggu (29/5). (Foto: Nurlaela - Profesi)
Hartono (peci putih) tengah mengajar anak didiknya membaca Al-qur’an di Masjid Babul Ikhtiar, Jl. Sultan Alauddin II, Minggu (29/5). (Foto: Nurlaela – Profesi)

PROFESI-UNM.COM – Sejak dua tahun lalu, Hartono telah menetap di rumah Allah. Mahasiswa angkatan 2014 ini sejak awal kuliah telah hidup dari dan untuk masjid. Malam itu (29/5), Hartono mengenakan pakaian koko hitam dengan berbalut sarung. Peci putih di kepala dan sajadah hijau disampirkan di bahunya.

Mahasiswa Jurusan Teknik Mesin ini baru saja usai menunaikan shalat maghrib berjamaah di Masjid Babul Ikhtiar, Jl. Sultan Alauddin II. Di masjid itulah, mahasiswa asal Sulawesi Tenggara ini menetap selama hidup di Makassar.

Sembari menanti waktu salat Isya, ia pun segera memanggil anak-anak agar duduk berkumpul di sekelilingnya.Anak laki-laki memakai peci, anak perempuan lengkap dengan kerudung. Mereka membaur dengan sama-sama membawa Alquran di tangan. Hartono tiap malamnya menjadi guru mengaji bagi anak-anak itu.

Satu persatu, Hartono mulai membimbing anak binaanya. Apabila satu anak mulai lancar melafalkan hijaiyah, Hartono kemudian berpaling ke anak lainnya. Hingga semua anak yang hadir mampu menamati bacaan yang ditargetkan per malamnya.Demikianlah keseharian Hartono.

Sejak ayahnya meninggal, ibunya menjadi tulang punggung keluarga. Namun, kini pun ibunya telah sakit-sakitan. Karena itu, Hartono tak pernah mengharap hasil jerih payah dari keluarga.

“Sejak berada di Makassar saya tidak pernah mendapat uang dari orang tua, bahkan uang yang saya gunakan untuk ke Makassar hanya uang dari keluarga dan digunakan untuk hidup di Makassar,” kisahnya.

Menjadi guru mengaji pun ia lakoni sebagai tuntutan hidup selama menjadi mahasiswa rantau. Membebani keluarga merupakan hal paling dihindari oleh Hartono.

“Saya masih mampu untuk hidup seperti ini tanpa harus menjadi beban untuk ibu di kampung, apalagi ayah saya telah tiada,” bebernya.

Upahnya sebagai guru mengaji sebenarnya tak seberapa, Rp20 ribu per bulannya. Namun, Hartono tetap ikhlas menjalani lakon hidupnya. Baginya, melihat anak-anak di sekitar masjid kediamannya dapat membaca Alquran dengan fasih menjadi kebahagiaan tersendiri.

“Untuk upah yang saya dapat tidak menjadi masalah, cukup melihat anak-anak bisa memahami apa yang bisa saya ajarkan itu bisa menjadi hasil yang sangat memuaskan,” ujarnya (*)


*Reporter: Nurlaela