BEBERAPA mahasiswa Prodi Pendidikan IPA tengah bersantai di selasar gedung kuliah. Prodi Pendidikan IPA telah dibuka sejak 2012 lalu, namun hingga kini baru memiliki satu ruang kelas mandiri. Ruang kelas lainnya dipinjam dari ruang kelas milik Jurusan Matematika dan Fisika. Prodi ini juga belum terakreditasi menurut data BAN PT. (Foto: Dok. Profesi)
BEBERAPA mahasiswa Prodi Pendidikan IPA tengah bersantai di selasar gedung kuliah. Prodi Pendidikan IPA telah dibuka sejak 2012 lalu, namun hingga kini baru memiliki satu ruang kelas mandiri. Ruang kelas lainnya dipinjam dari ruang kelas milik Jurusan Matematika dan Fisika. Prodi ini juga belum terakreditasi menurut data BAN PT. (Foto: Dok. Profesi)
BEBERAPA mahasiswa Prodi Pendidikan IPA tengah bersantai di selasar gedung kuliah. Prodi Pendidikan IPA
telah dibuka sejak 2012 lalu, namun hingga kini baru memiliki satu ruang kelas mandiri. Ruang kelas lainnya dipinjam
dari ruang kelas milik Jurusan Matematika dan Fisika. Prodi ini juga belum terakreditasi menurut data BAN PT. (Foto: Dok. Profesi)

PROFESI-UNM.COM – Tahun ini, UNM kembali berencana bakal menambah dua prodi baru. Dua prodi tersebut ialah Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin dan Niaga. Bahkan, tahun ini digadang-gadang akan mulai menerima mahasiswa baru.

Hal itu diungkapkan oleh Pembantu Rektor bidang Akademik (PR I), Sofyan Salam. “Belum dimasukkan di SNMPTN dan SBMPTN memang, karena SK-nya belakangan datang. Nanti akan dibuka penerimaan mahasiswa lewat jalur mandiri,” ungkapnya.

Rencana pembukaan prodi baru tersebut nantinya akan kembali menambah catatan panjang bengkalai birokrasi dalam peningkatan akreditasi. Pasalnya, sejumlah prodi UNM hingga kini masih terdapat berakreditasi C. Tak hanya itu, prodi lain yang baru dibentuk beberapa tahun belakangan ini juga belum memiliki kejelasan dalam proses akreditasi.

Prodi Pendidikan Bahasa Arab, misalnya. Menyoal prodi yang baru dibuka pada 2014 ini, Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS), Syarifuddin Dollah berkomentar, ia menyerahkan proses akreditasi pada PR I UNM. “Diserahkan ke PR I karena dia yang mengurus akreditasi. Kita sudah berusaha untuk memenuhi syarat akreditasi, seperti fasilitas, jumlah dosen, ruang kelas,” bebernya.

Menurutnya, untuk saat ini akreditasi Pendidikan Bahasa Arab belum menjadi persoalan berarti. “Yah memang wajar, karena Prodi Bahasa Arab masih berumur 2 tahun,” akunya.

Lebih lanjut, ia menambahkan, untuk terdaftar dan mendapat akreditasi di BAN PT harus memenuhi beberapa poin, di antaranya jumlah mahasiswa dan alummi. “Untuk sementara mahasiswa masih sedikit, dan ke depan banyak yang mendaftar di prodi tersebut.” Ujar Dekan yang juga pernah menjadi bakal calon rektor UNM periode 2016-2020 ini.

Prodi Statistika juga dibuka di FMIPA pada tahun yang bersamaan dengan Prodi Pendidikan Bahasa Arab. Ditemui, Ketua Prodi Statistika, Arif Tiro, mengatakan, dirinya belum dapat berkomentar banyak terkait akreditasi prodi yang masih terbilang baru. “Kan ini belum waktunya juga karena masih jalan satu tahun lebih, masih dalam tahap pembenahan,” tuturnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua Prodi Pendidikan IPA, Muh. Tawil. BAN PT tak mendata prodi yang dibuka pada 2012 ini. Namun, Tawil membantah hal tersebut. Menurut pengakuannya, Prodi Pendidikan IPA sudah terdaftar di BAN-PT, namun saat ini masih berakreditasi C. “Prodi Pendidikan IPA sudah terdaftar di BAN-PT dengan akreditasi C, namun kita menargetkan tahun ini kita bisa mencapai akreditasi A,” sanggahnya.

Menanggapi dua prodi bungsunya, Dekan FMIPA, Abdul Rahman mengaku baru mendaftarkan Prodi Statistika dan Pendidikan IPA agar divisitasi BAN PT. “Kedua prodi itu sudah didaftarkan. Borang fakultas juga semua sudah rampung,” ujarnya.

Guru Besar Matematika ini pun menjelaskan, dirinya tak begitu muluk-muluk soal akreditasi pada prodi baru tersebut. “Kedua prodi tersebut bisa dibilang masih baru di lingkup Fakultas MIPA, jadi untuk akreditasi kami tidak berharap banyak untuk mencapai akreditasi A, paling tidak kita mencapai akreditasi B lebih dulu,” katanya.


*Febriawan Djalil, Nurul Charismawaty S, Resa Saputra, Noval Kurniawan

Tulisan Ini Terbit di Tabloid Profesi Edisi 202