Wartawan Kompas, Soelastri Soekirno saat memberikan materi tentang kepenulisan dan berbagi pengalaman mengenai dunia kewartawanan. (Foto: Muh. Agung Eka - Profesi)
Wartawan Kompas, Soelastri Soekirno saat memberikan materi tentang kepenulisan dan berbagi pengalaman mengenai dunia kewartawanan. (Foto: Muh. Agung Eka - Profesi)
Wartawan Kompas, Soelastri Soekirno saat memberikan materi tentang kepenulisan dan berbagi pengalaman mengenai dunia kewartawanan. (Foto: Muh. Agung Eka – Profesi)

PROFESI-UNM.COM – Menulis itu bekerja untuk keabadian, itulah sepenggal kalimat populer dari Pramoedya Ananta Toer. Walau jasadnya sudah terkubur di dalam tanah, seseorang akan dianggap abadi melalui tulisannya. Karyanya akan terus dibaca banyak orang dan tak akan mati oleh zaman.

Saat ini, minat menulis di Indonesia sangatlah rendah. Hal ini berdasarkan data yang dikeluarkan World’s Most Literate Nations, yang disusun oleh Central Connecticut State University. Penelitian yang dikeluarkan Maret lalu ini memperlihatkan peringkat literasi Indonesia berada di posisi kedua terbawah dari 61 negara yang diteliti. Artinya, peringkat Indonesia hanya lebih baik dari Bostwana, sebuah negara di kawasan selatan Afrika. Sementara Negara yang paling baik literasinya adalah Finlandia.

Salah satu wartawan senior Harian Kompas, Soelastri Soekirno mengatakan kebiasaan menulis harus dimulai sejak kita masih anak-anak. Perempuan yang telah memiliki karir sebagai wartawan selama 20 tahun ini berbagi pengalamannya menjadi jurnalis selama kurang lebih 20 tahun, kepada mahasiswa se-Makassar di Ballroom lt 2, Gedung Pinisi UNM, Kamis (7/4) lalu.

Melalui Workshop “Sharing Journalism Knowledge”, Soelastri mengungkapkan pentingnya peran generasi muda saat ini. Ia juga memotivasi anak muda untuk terus berkarya lewat tulisan. Simak wawancara khusus yang dilakukan salah satu wartawan Profesi, Nurul Fildzah Zatalini kepada perempuan yang akrab disapa Soelastri ini.

  • Bagaimana tanggapan Mbak Soelastri terhadap Generasi Muda saat ini?
    Menurut saya, anak muda sekarang. Oke. Anak muda yang mau belajar banyak. Susahnya kalau tidak bisa ngerem. Karena gadget misalnya, jadi anak muda bisa lupa belajar. Yang serius juga lebih banyak. Kalau melihat gerakan untuk banyak orang, mengagumkan. Dengan adanya teknologi digital, dapat mengembangkan kemampuan anak muda. Bandung contohnya, membuat aplikasi donor darah.
  • Bagaimana dengan dengan anak muda di Makassar?
    Saya mungkin belum melihat terlalu dalam untuk anak muda yang ada di Makassar. Namun, kita bisa lihat dari Workshop Sesi Berbagi Pengalaman ini. Kegiatan ini memiliki banyak peminat. Terlihat sepele memang, tapi siapa yang tahu ada di antara kita yang jadi penulis luar biasa. Saya juga kagum dengan banyaknya perpustakaan yang telah didirikan di Kota Makassar. Ini membuktikan, literasi di Makassar sudah tersedia, hanya saja minat bacanya yang harus ditumbuhkan.
  • Untuk generasi muda, pentingkah menulis?
    Penting. Berangkat dari diri sendiri. Kalau punya beban atau uneg-uneg yang susah dikeluarkan, saya tidak perlu marah-marah, ya ditulis saja. Menjadi terbiasa mengeluarkan isi kepala atau perasaan bisa jadi lebih mudah.
  • Mengapa?
    Pekerjaan saat ini sangat berhubungan dengan tulis menulis. Mau jual ide, ya tulis proposal. Zaman sekarang, segala hal memakai kemampuan menulis. Kalau tidak terbiasa menulis, ngomong juga susah. Penting sekali. Jangan berpikir belajar menulis nanti kamu akan jadi seorang penulis atau wartawan. Nggak.
  • Mbak Soelastri adalah wartawan di Kompas Muda, Jadi Mba Soelastri sering berinteraksi dengan anak muda.Bagaimana pengalaman peliputan anak muda?              Pengalaman dengan teman-teman muda, kebanyakan enak-enak saja. Maksudku, tidak seberat dibandingkan dengan peliputan besar yang seringkali mendapat ancaman atau ketika aku menulis kasus korupsi. Acara anak muda sih fun fun saja, seperti mengisi acara workshop di UNM ini, aku juga bisa melihat kampusnya. Yang paling menyenangkan, saya bisa tahu tentang siapa dan pemikiran anak muda saat ini. Dan aku belajar banyak dari anak muda.
  • Kenapa Anak muda jadi segmen pemberitaan?
    Dari Kompas, anak muda itu penting. Dari sisi bisnis, nanti saat wartawan tua, nanti harus ada gantinya. Jadi, kami harus mengenalkan kepada anak muda untuk menggantikan mereka yang sudah tua. Itu kalau dari sisi bisnis. Tapi karena kami bukan kalangan bisnis, kami ini wartawan maka membiasakan teman-teman dan mengajak teman-teman menulis dan membaca. Kebiasaan membaca saat ini sangat kurang. Yuk kita belajar menulis.
  • Pesan untuk anak muda?
    Membaca dianggap kuno, tapi itu penting. Mulailah membaca dari hal-hal yang paling mudah, misalnya dari komik, novel. Dan setelah itu akan terbiasa untuk membaca yang lain. Dan di makassar, banyak perpustakaan. Marilah kita menekuni kembali budaya membaca, karena itu pasti akan membawa perubahan bagi teman-teman.


    *Reporter: Nurul Fildzah Zatalini