Haryanto, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Makassar (UNM). (Foto: Dok. Pribadi)
Haryanto, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Makassar (UNM). (Foto: Dok. Pribadi)
Haryanto, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Makassar (UNM) saat mengikuti 21st Century Academic Forum Conference di Universitas Harvard. (Foto: Dok. Pribadi)

PROFESI-UNM.COM – Menjadi universitas urutan keenam di Indonesia dengan sumber daya manusianya, UNM benar-benar patut berbangga. Baru-baru ini, salah satu dosennya membawa nama baik almamater di kancah Internasional, Universitas Harvard.

Dialah Haryanto. Terpilih mengikuti 21st Century Academic Forum Conference, Haryanto menjadi satu dari empat dosen sekaligus peneliti dari Indonesia yang mengikuti konferensi di Universitas Harvard, Boston, Amerika Serikat. Konferensi tersebut digelar di Gedung Joseph Martin Conference Center, Harvard Medical College, Harvard Unversity pada 20 Maret 2016 – 22 Maret 2016.

Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Program Pascasarjana (PPs) UNM menuturkan, konferensi internasional di Universitas Harvard bukanlah konferensi pertama yang diikutinya. Beberapa kali ia menjadi pembicara konferensi Languange Teaching yang diadakan di berbagai negara, di antaranya Vietnam, Philipina, dan India.

Sebelumnya, Haryanto telah diundang untuk menghadiri konferensi internasional yang diadakan di Dubai dan India. Lantaran ia telah sering mengikuti konferensi di negara-negara Asia, ia pun memilih untuk tidak menghadiri konferensi tersebut.

Ketidakhadirannya tersebut ternyata memberikan kesempatan yang lebih baik bagi Haryanto. Oleh panitia konferensi, Haryanto mendapat tawaran untuk mempresentasikan hasil penelitiannya di negeri Paman Sam itu. ”Saya mulai tertarik dan masyarakat tahu Harvard itu seperti apa,” katanya.

Dengan penelitian yang berjudul “Learners’ Perception on the Personal and Professional Competences of Effective and Ineffective EFL Teachers”, Haryanto melakukan presentase di hadapan lebih dari seratus peneliti dari 35 negara.

Ia menceritakan, salah satu hal yang menyedot perhatian peserta konferensi pada presentasi ialah ikon kampus UNM, Gedung Pinisi. “Dalam presentasi, saya memperlihatkan gambar Gedung Phinisi dalam slide pertama, dan hal tersebut menarik perhatian peserta,” bebernya.

Pengalamannya menjadi pemateri di Harvard tersebut bukanlah hal yang mudah. Ia membeberkan, penguasaan bahasa Inggris menjadi modal penting dalam menggapai pencapaiannya tersebut. “Harus ada kemauan dari diri sendiri dulu, dan sangat penting untuk meningkatkan kemampuan bahasa inggris,” katanya.

Pria asal Purbalingga ini juga berpesan kepada dosen di UNM agar lebih aktif mencari informasi seputar konferensi internasional. “Rajin-rajin saja cari informasinya secara online, apalagi banyak bantuan seminar yang ditawarkan oleh Dikti,” tambah Haryanto yang juga aktif menjadi reviewer jurnal Internasional ini.

Sebagai dosen UNM pertama yang melakukan presentasi di Universitas Harvard, Haryanto lantas mendapat dukungan penuh oleh Direktur PPs, Jasruddin.

“Sebagai salah satu peneliti yang terpilih sebagai presenter dan session chair, Program Pascasarjana Universitas Negeri Makassar mendukung dan mengutus saya pada kegiatan tersebut,” kata pria kelahiran 29 Oktober 1959 ini.

Direktur PPs, Jasruddin berujar, pencapaian Prof Haryanto dalam melakukan presentasi di Universitas Harvard perlu menjadi teladan dan motivasi bagi rekan peneliti di UNM. “Prestasi itu merupakan pencapaian hebat yang diraih oleh dosen UNM. Kita patut berbangga memilikinya,” ujar Guru Besar Fisika itu. (*)


*Reporter: Nurul Fildzah Zatalini